Showing posts with label jenis. Show all posts
Showing posts with label jenis. Show all posts

Sunday, February 3, 2019

Burung Branjangan (Mirafra javanica)


Burung branjangan (Mirafra javanica), merupakan salah satu burung yang sangat ideal. Burung ini memiliki penyimpanan suara atau dengan kata lain bisa merekam lebih dari tujuh jenis burung. Itu sebabnya ia dijuluki burung cerdas.
Meski begitu untuk mencari Branjangan yang berkualitas sekarang sangatlah sulit, selain pemilik branjangan gacor belum atau tidak akan menjualnya, keberadaan di alamnya pun semakin menipis saja.
Di setiap daerah cukup berbeda ragam dan postur dari burung cerdas ini, jenis dan type burung Branjangan dikelompokan menurut habitat asal muasalnya. Ada empat jenis Branjangan yang dikelompokkan sesuai dengan habitatnya, Branjangan Sawah, Branjangan Tegalan, Branjangan Gunung dan Branjangan Pantai.

JENIS MENURUT KELOMPOK HABITATNYA


Branjangan Sawah mempunyai warna cerah cenderung putih, Branjangan Tegalan mempunyai warna putih kekuning-kuningan, Branjangan Gunung mempunyai dominasi warna yang gelap, sedangkan Branjangan Pantai mempunyai warna putih kecoklatan dan kuning pucat.
Ada pendapat bahwa warna dan habitatnya memiliki keterkaitan secara alamiah. Artinya, warna itu cenderung selaras dengan kondisi alam. Di sawah warna cerah selaras dengan lokasi yang terang benderang. Di tegal warna agak suram, sebab tertutup pohon perkebunan. Di hutan warna gelap, sesuai dengan suasana hutan yang rimbun dengan pepohonan besar. Di pantai putih kecoklatan, mirip warna pasir.
Keselarasan warna dengan habitatnya dibutuhkan burung sebagai kamuflase, penyamaran agar tak gampang dimangsa predator atau ditembak pemburu. Di dunia burung, mata rantai tertinggi ada pada burung-burung besar pemakan daging, seperti Elang, Rajawali, burung predator ini bisa memangsa burung yang lebih kecil.
Namun, belum ada penelitian soal keselarasan warna dengan habitatnya. Apakah karena burungnya yang menyesuaikan diri dengan alam sesuai warna bulunya, atau mereka tidak sengaja menyesuaikan diri.
Populasi dari burung tanah ini, tersebar Pulau Sumatera bagian bawah, Kalimantan bagian selatan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat.

JAWA BARAT

Branjangan dari Jawa Barat terkenal karena mempunyai tingkat kecerdasan tinggi, dengan ukuran antara 12-13 cm. Mempunyai kelebihan suara mengkristal dan lengkingannya yang nyaring, dengan jambul yang berdiri solid. Trecetan dan ngerolnya mempunyai warna suara nge-bass, dengan kicauannya yang sambung menyambung. Pola batik pada bulunya cenderung berwarna gelap
Penyebarannya meliputi Sapan Majalaya, Subang, Cianjur, Indramayu dan daerah lainnya. Branjangan dari daerah Sapan Majalaya, medio tahun 1990-2000 an merupakan primadona yang paling diburu. Tetapi seiring dengan waktu, selain oleh perburuan pemikat burung, penggunaan insektisida dan perubahan dalam tataguna lahan, telah berakibat nyata terhadap kehidupan burung Branjangan di daerah Sapan.

JAWA TENGAH DAN TIMUR

Branjangan dari Jawa Tengah mempunyai mental tempur yang baik, disamping variasi suaranya yang banyak, ditunjang juga dengan volume suaranya yang keras, dengan nada bergetar. Pola batik pada bulunya, mempunyai warna yang menarik merah kekuningan. Berukuran antara 13-14 cm, lebih besar daripada Branjangan asal Jabar.
Penyebarannya meliputi Jogyakarta, Sleman, Wates, Kali Ori, Petanahan dan daerah lainnya. Mempunyai memori penyimpanan yang banyak, termasuk burung unggulan sangat baik untuk burung masteran.

SUMBAWA DAN NTB

Suaranya lebih kecil dibandingkan dengan Branjangan dari daerah Jawa. Berukuran antara 10-12 cm, mempunyai suara yang bervariatif dengan volume yang cukup nyaring, meski disinyalir mempunyai mental tempur yang rendah. Corak batik pada bulunya terlihat lebih gelap.

LOMBOK

Kerap juga disebut Branjangan pantai, berukuran antara 10-12 cm. Meski terhitung berukuran kecil, nyanyian terhitung variatif dan nyaring. Kerap juga disebut burung peniru yang ulung.


KEBIASAANNYA

Branjangan kadang hidup sendiri atau dalam kelompok yang tersebar. Umumnya hidup di daerah terbuka, persawahan yang baru di panen, padang rumput dan tanah bekas injakan kerbau yang mengeras, serta semak-semak yang tidak terlalu rimbun. Biasanya berjalan di atas tanah, bernyanyi diatas tanah atau di udara, baik ketika terbang maupun melayang, sambil perlahan-lahan menurun secara vertikal. Branjangan di alamnya secara teratur memandikan tubuhnya dengan debu atau pasir yang halus. Untuk menarik perhatian betina atau menandakan daerah kekuasannya, Branjangan akan berkicau naik turun bak seperti helikopter, itu berlaku juga ketika Branjangan berlaga di arena kontes.
Ada beberapa faktor penyebab branjangan malas berbunyi. Penyebab paling dominan adalah pola perawaan yang tak sesuai, termasuk pemberian pakan. Berikut ini beberapa penyebab branjangan jarang bunyi:
  • Burung masih muda.
  • Burung bakalan / baru ditangkap dari hutan, sehingga masih memiliki tingkat stres cukup tinggi.
  • Burung sedang tidak fit atau sakit.
  • Burung terinfeksi oleh kutu.
  • Burung tidak mendapat pakan yang sesuai.
  • Burung jarang dimandikan maupun dijemur
Bagaimana cara merawat burung branjangan agar rajin bunyi dan cepat ngeplong? Sebenarnya cukup mudah. Tetapi sebelum menerapkan pola perawatan secara tepat, ada baiknya Anda penuhi dulu beberapa persyaratan berikut ini:
  • Burung dalam kondisi sehat dan tidak memiliki cacat tubuh.
  • Burung sudah beradaptasi sepenuhnya dengan sangkar dan lingkungan barunya.
  • Burung sudah dalam kondisi jinak dan tidak takut lagi terhadap manusia.
  • Burung mau makan secara rakus.
  • Burung sudah rajin mengeluarkan suara panggilan.
Jikaka syarat-syarat tersebut dijumpai pada branjangan milik Anda, maka tahap selanjutnya adalah merawatnya secara tepat agar burung makin rajin berbunyi dan cepat bersuara ngeplong. Berikut ini beberapa pola perawatan yang bisa diterapkan:

Berikan pakan bijian secara bervariasi

Hal pertama yang mesti diperhatikan mengenai cara merawat burung branjangan agar rajin bunyi dan cepat ngeplong adalah memberikan beberapa jenis pakan / bervariasi setiap harinya. Beberapa jenis pakan yang bisa diberikan adalah:
  • Menggantung seikat padi merah dalam sangkarnya. Jika sulit mendapatkan padi merah, bisa juga menggunakan padi biasa atau padi putih.
  • Memberikan racikan pakan bijian dengan komposisi sebagai berikut: milet putih, beras merah, jewawut, ketan hitam, godem, dan gabah. Campuran bijian tersebut dipercaya mampu membuat branjangan makin aktif dan rajin berbunyi.

Jenis Extra Fooding yang bagus untuk branjangan

Selain pakan utama biji-bijian, burung branjangan juga perlu mendapatkan pakan tambahan dari jenis serangga. Hal ini bisa memancing burung agar lebih rajin bunyi. Berikut ini beberapa jenis serangga yang bagus untuk branjangan:
1. Jangkrik
Jangkrik merupakan pakan tambahan / extra fooding (EF) yang paling sering digunakan para kicaumania untuk aneka jenis burung kicauan.
Untuk perawatan dasar, terutama burung branjangan rumahan, Anda bisa memberikan jangkrik sebanyak 2-3 ekor pada pagi dan sore hari. Untuk burung lomba, setelan jangkrik biasanya 5/5.
2. Kroto
Berikan kroto segar sebanyak 1 cepuk setiap pagi. Setelah branjangan dikeluarkan dari dalam rumah pada pagi hari / ketika pengembunan, segera berikan kroto segar. Pemberian kroto pada pagi hari bisa membantu burung beraktivitas sepanjang hari.
3. Anai-anai / laron
Di habitat aslinya, branjangan sering menangkap laron / anai-anai yang keluar pada sore hari. Biasanya serangga ini keluar dari sarangnya setelah hujan turun. Saat itulah branjangan akan berebut laron bersama dengan jenis burung lainnya seperti kapinis atau burung gereja.
3. Belalang hijau
Anda juga bisa menambahkan belalang hijau sebagai EF harian yang diberikan bersamaan dengan jangkrik.
4. Semut madu
Semut madu dapat meningkatkan stamina dan membuat branjangan makin rajin bunyi. Namun semut jenis ini sudah sulit ditemukan. Alternatifnya, Anda bisa memberikan kepompong ulat sutra ataularva lebah yang mempunyai khasiat hampir sama.
5. Ulat kandang / ulat hongkong
Ulat kandang bisa diberikan setiap pagi dan sore hari, dengan jumlah yang disesuaikan kebutuhan. Jika tidak ada ulat kandang, Anda bisa menggantinya dengan ulat hongkong.
Rawatan Harian Rutin
1.Mandi Semprot atau cepuk(tergantung kebiasaan)
Mandi untuk branjangan berfungsi untuk menurunkan birahi sekaligus merapikan bulu dan mencegah kutu, lakukan rutin setiap pagi dan sore agar burung selalu sehat.
Note: setiap seminggu sekali berikan tanah, pasir, atau batu bata yang ditumbuk pada sangkar branjangan ,mengingat kebiasaan dialam liar burung ini suka mandi tanah untuk menghilangkan kutu dan mengkilapkan bulu.
2.Pemberian Extra Fooding(EF)
Extra Fooding berfungsi untuk menjaga stamina burung agar tetap sehat dan rajin berkicau
3.Penjemuran
Penjemuran sifatnya mutlak untuk burung branjangan mengingat habitat burung ini disawah atau pegunungan yang panas full
4.Pemasteran
Pemasteran bisa dilakukan pada malam hari saat burung istirahat,
Itulah sedikit tips cara merawat burung branjangan agar rajin bunyi dan cepat ngeplong. Tentu perawatan tak sebatas pemberian pakan berkualitas saja. Perawatan lain seperti mandi, jemur, dan menjaga kebersihan sangkar harus dilakukan secara rutin.
Salam kicau mania

Saturday, February 2, 2019

Burung Ciblek (prinia famillia)


Ciblek(CB)

 
 
 
 
Ciblek atau bahasa latinnya prinia famillia ini yaitu burung kecil yang lebih kurang tahun 80 - 90an ada banyak bercengkrama di lebih kurang halaman tempat tinggal kita. Nada khasnya sebagaikan burung ini digandrungi oleh beberapa kicaumania di seluruh indonesia serta jadikan burung ini jadi naik daun serta berangsur-angsur mulai jarang tampak di alam bebas. Penangkapan yang terlalu berlebih jadi di antara karena menghilangnya burung ciblek di pekarangan maupun di kebun-kebun.

Bagaimana cara bikin burung ciblek jadi cepat gacor? Kuncinya ada di perawatan serta juga yang tidak kalah penting yaitu mental bawaan dari si burung itu sendiri. sobat ilmu kicau, layaknya kita ketahui ciblek yang telah kita kenal ada dua jenis type yakni ciblek dada putih (ciblek putih/kristal) serta ciblek dada putih kekuningan(ciblek kuning). Dari ke-2 type ciblek tersebut ada perbedaan ciri-ciri dari keduanya. Burung ciblek dada putih contohnya, bila telah kalah bertarung umumnya burung ini dapat lebih lama sembuhnya dibanding dengan burung ciblek dada kuning atau putih kekuningan.
 

Ciblek jantan serta betina dapat dibedakan dari warna paruh sisi bawahnya. Untuk ciblek jantan dewasa warna paruh semuanya yaitu berwarna hitam namun untuk jantan muda warna paruh sisi bawahnya berwarna putih kepucatan dengan sedikit warna hitam di ujung paruhnya, namun untuk ciblek betina warna paruh sisi bawahnya berwarna putih.

Variasi nada burung ciblek umumnya seirama serta diperdengarkan dengan tempo tinggi ( ngotot ) serta terus-terusan, hingga enak didengar. Sebagian ciblek sudah bisa di master dengan nada burung lain. Arti nada tembakan, nada ngebren yaitu arti yang biasa dipakai oleh pengagum burung ini untuk menggambarkan nada burung ciblek yang tengah berkicau. Nada tembakan yaitu nada burung waktu memperdengarkan nada kerasnya dengan satu-persatu dengan tempo suara yang tidak demikian rapat. Ngebren yaitu nada ciblek yang diperdengarkan dengan tempo tinggi/rapat serta keras. Terasa jarang kita jumpai burung ciblek yang bersuara ”setengah hati”. Variasi nada burung ini dapat bergantung pada kecerdasan burung saat menangkap serta merekam nada burung lain di sekelilingnya.

Tidak saja untuk dipertandingkan, burung ciblek juga dikenal sebagai burung ”master” yang baik, terutama untuk burung kenari, branjangan, atau cucak hijau.

Perawatan harian burung ciblek

 

makanan yang harus disediakan untuk ciblek tiap-tiap harinya yaitu : 
  1. Voer lembut / kasar ( note: banyak kicaumania yang mencampurkan susu bubuk kedalam voernya ) 
  2. Jangkrik kecil ( atau jangkrik dewasa yang di potong kepala, kaki serta sayapnya ) 
  3. Ulat hongkong
  4. Kroto 

Perawatan harian ciblek dewasa 

  • Perawatan harian diawali dengan pemberian jangkrik kecil 3 ekor pagi / sore 
  • ulat ( untuk UH sebelum saat diberikan baiknya kepala dipotong, serta semakin bagus lagi bila diberikan UH yang tetap berwarna putih / ubah kulit ) 3 ekor p/s 
  • kroto baiknya minimal 2 kali 1 minggu atau 3 kali 1 minggu. 
  • Voer diberikan voer lembut boleh digabung dengan susu bubuk. 
  • Penjemuran minimal 2 s/d 3 jam tiap-tiap hari. 
  • Pada saat menggantung burung ini upayakan berjauhan dari burung sejenis atau burung predator lainnnya layaknya cendet/pentet. 
  • Tempel dengan burung betina / burung muda optimal 2 kali 1 minggu sepanjang - 2 jam, untuk mengasah mentalnya. 
Sobat ilmu kicau, sebenarnya kunci dari pada perawatan harian burung bergantung dari setelan harian yang kita lakukan untuk burung kicauan kita, serta sesudah itulah yang jadikan sebagai patokan dari perawatan burung tiap-tiap harinya. Coba kerjakan pergantian perawatan layaknya jumlah jangkrik/ulat yang didapatkan tiap-tiap harinya lantas amati perubahan burung tersebut apakah burung tersebut makin agresif, rajin berkicau atau jadi jadi malas berkicau, cari setelan yang menurut anda yaitu setelan yang pas diaplikasikan pada burung anda tiap-tiap harinya. Umumnya sesudah anda mendapatkan setelan yang cocok untuk burung anda maka burung lalu dapat lebih optimal serta tentulah perihal ini yang amat diinginkan oleh kicauan mania, mempunyai burung yang gacor di tempat tinggal maupun di arena kontes.

 
 
 
 
 
Salam lestari kicau mania





Burung Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus)

Cucakrowo atau Cucakrawa(CR)
 
 
 
merupakan salah satu anggota suku merbah. Merbah atau disebut cucak (familia Pycnonotidae) adalah suku burung pengicau dari Afrika dan Asia tropis. Burung ini kebanyakan memiliki suara yang merdu dan nyanyian yang beraneka ragam, kerap kali hutan menjadi ribut oleh suaranya terutama di pagi dan petang hari. Dalam bahasa Inggris, burung-burung ini dikenal sebagai Bulbuls.
Merbah aslinya dalam bahasa Melayu merujuk kepada beberapa jenis burung pengicau yang berbulu suram di semak belukar, termasuk pula jenis-jenis burung pelanduk, tepus, bentet dan lain-lain. Di sini, untuk kepentingan standarisasi penamaan seperti yang digunakan LIPI, merbah digunakan terbatas untuk menyebut burung-burung dari keluarga Pycnonotidae. Selain disebut merbah, burung-burung dari suku ini memiliki beberapa sebutan umum yang lain seperti cucak (Jawa); tempuruk, empuruk; tempulu’, empulu’, pampulu, empuloh (aneka bahasa Melayu di Sumatera dan Kalimantan); dan lain-lain.
burung-burung ini biasanya bertubuh sedang agak ramping, leher pendek, dan ekor agak panjang. Kerap kali bermisai halus.
Sebagian spesiesnya memiliki warna-warni yang cerah: kuning, jingga, merah, pada dada, perut atau seluruh tubuhnya. Akan tetapi kebanyakan berwarna suram coklat zaitun, keabu-abuan atau kekuningan, dengan warna kuning, jingga atau merah di pantatnya. Jantan dan betina berwarna serupa.
Beberapa dengan warna hitam di kepala, jambul yang dapat digerak-gerakkan, atau janggut putih.
Merbah terutama adalah burung pemakan buah dan serangga. Di hutan, kebanyakan burung ini senang menjelajah semak belukar dan hutan yang setengah terbuka, memetik  buah kecil-kecil dan memburu serangga. Meski sebagian lagi lebih senang tinggal di atas pepohonan.
Sering didapati berpasangan atau berkelompok, burung-burung ini terkadang bercampur dengan jenis yang lain. Ramai bersuara nyaring saling memanggil.
Merbah membuat sarang di atas pohon atau perdu, berbentuk cawan dari rumput, tangkai daun, atau serpihan daun, bercampur dengan serat-serat yang lain. Telur 2-3 butir.


Ragam jenis merbah
Di Indonesia terdapat sekitar 27 jenis, terutama terkonsentrasi penyebarannya di Indonesia bagian barat. Hanya dua spesies yang menyebar jauh hingga ke Sulawesi Selatan, salah satunya juga didapati di Lombok. Namun keduanya diduga menyebar karena dibawa manusia (feral, burung lepasan yang kemudian berbiak).
Akan tetapi anehnya ada satu jenis anggota suku ini yang menyebar terbatas (endemik) di pulau-pulau sekitar Sulawesi dan Maluku, yakni Brinji emas (Alophoixus (Hypsipetes) affinis). Bahkan karena hidup di wilayah kepulauan yang terisolir satu sama lain selama jutaan tahun, spesies ini telah berkembang menjadi sembilan subspesies yang berbeda.
Beberapa contoh anggota suku merbah ini selain cucak rowo (Pycnonotus zeylanicus) adalah Cucak kuning (P. melanicterus), Cucak kutilang (P. aurigaster), Cucak gunung (P bimaculatus), Merbah cerukcuk (P. goiavier), Merbah belukar (P. plumosus) dan Empuloh janggut (Alophoixus bres).
Cucak rawa dikenal umum sebagai cucakrawa, cangkurawah (Sunda), dan barau-barau (Melayu). Dalam bahasa Inggris disebut Straw-headed Bulbul, mengacu pada warna kepalanya yang kuning-jerami pucat. Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus zeylanicus (Gmelin, 1789).
Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 28 cm ini memiliki mahkota (sisi atas kepala) dan penutup telinga berwarna jingga- atau kuning-jerami pucat; setrip malar di sisi dagu dan garis kekang yang melintasi mata berwarna hitam. Punggung coklat zaitun bercoret-coret putih, sayap dan ekor kehijauan atau hijau coklat-zaitun. Dagu dan tenggorokan putih atau keputihan; leher dan dada abu-abu bercoret putih; perut abu-abu, dan pantat kuning. Iris mata berwarna kemerahan, paruh hitam, dan kaki coklat gelap.
 

HABITAT CUCAKROWO
Seperti namanya, cucak rawa biasa ditemukan di paya-paya dan rawa-rawa di sekitar sungai, atau di tepi hutan. Sering bersembunyi di balik dedaunan dan hanya terdengar suaranya yang khas.
Suara lebih berat dan lebih keras dari umumnya cucak dan merbah. Siulan jernih, jelas, berirama baku yang merdu. Kerap kali terdengar bersahut-sahutan.
Di alam, burung ini memangsa aneka serangga, siput air, dan berbagai buah-buahan yang lunak seperti buah jenis-jenis beringin.
Menyebar di dataran rendah dan perbukitan di Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Nias), Kalimantan, dan Jawa bagian barat. Di Jawa Barat terdapat sampai ketinggian 800 m dpl., namun kini sudah sangat jarang akibat perburuan.
Merupakan salah satu burung yang sangat digemari orang sebagai burung peliharaan, karena kicauannya yang merdu. Di Jawa, burung ini sudah sangat jauh menyusut populasinya karena perburuan yang ramai sejak tahun ’80an.
Burung-burung yang diperdagangkan di Jawa kebanyakan didatangkan dari Sumatra dan Kalimantan. Kini di banyak bagian Pulau Sumatra (misalnya di Jambi, di sepanjang Batang Bungo) pun populasinya terus menyurut. Collar dkk. (1994, dalam MacKinnon dkk. 2000) menggolongkan populasi cucak rawa ke dalam status rentan. Demikian pula IUCN menyatakan bahwa burung ini berstatus Rentan (VU, Vulnerable). Uraian status konservasi yang lebih rinci dapat dilihat pada situs IUCN di bawah.
Jika tidak ada langkah penyelamatan yang lebih baik dari sekarang, barangkali beberapa tahun ke depan burung ini hanya tinggal kenangan; tinggal disebut-sebut dalam nyanyian seperti dalam lagu Manuk Cucakrowo di Jawa.

+CIRI BERDASAR DAERAH ASAL
Secara umum tidak ada perbedaan volume, mental dan jenis suara yang didasarkan oleh asal daerah/habitat. Cucakrowo Sumatera dan Kalimantan ada yang bermental bagus volume dahsyat, ada yang bersuara tipis, ada yang ropel dan ada yang bersuara biasa saja. Secara fisik, cucakrowo daerah sumatera relatif lebih besar ketimbang dari pulau lain. Meski demikian, secara umum bodi cucakrowo di Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia, bertubuh bongsor seperti cucakrowo Sumatera.

http://ilmukicau.blogspot.com/
Cucakrowo termasuk burung monomorfik di mana tidak ada perbedaan ciri fisik yang terlihat dari luar yang membedakan antara burung jantan dan burung betina. Namun demikian, ada beberapa patokan yang bisa digunakan untuk menentukan jenis kelamin burung cucakrowo oleh penangkar.
 Ciri fisik
Jantan: Kepala bulat, dengan bulu berwarna lebih tua, tampak ada semacam belahan bulu; Bulu rahang lebih putih dan tampak bersih cerah; Bulu punggung dan sayap lebih abu-abu, garis-garis hitam putih lebih nyata; Ekor lebih panjang dan menyatu paruh tampak lebih kokoh kuat dan tebal serta agak melengking; Garis hitam di bawah mata tampak lebih jelas.
Betina: Kepala lebih datar, dengan bulu berwarna lebih ringan, dan tidak ada belahan bulu; Bulu rahang lebih kotor, tampak putih keabu-abuan; Garis-garis hitam putih kurang jelas; Ekor lebih pendek dan sedikit agak mengembang; Paruh lebih pipih dan cenderung tampak lebih cantik; Garis hitam di bawah mata dengan warna lebih ringan.
Melihat Tingkah Laku dan Gerakannya
Dari tingkah laku dan gerakannya, burung cucakrawa dapat diketahui sekaligus dibedakan antara jantan dan betinanya. Terutama bila telah jinak dan gerakannya telah menunjukkan kebebasan tanpa adsa rasa takut.
Jantan: Gerakan lebih agresif, sering melompat, seakan-akan menantang dan terlihat berani; Bila melihat lawan jeisnya seakan-akan merayu dan melakukan gerakan atraktif, sedang bila  dengan jenis yang sama, seakan ingin menyerang; Banyak gerakan kaki dan tubuh yang seakan-akan hendak mengangkat ke atas dan ekornya mengarah ke bawah; Kepala menunjukkan gerakan melongok ke atas dengan gerakan yang nampak berani dan menantang disertai dengan siulan keras bernada memanggil.
Betina: Gerakan lebih lamban dan tampak halus; Bila melihat lawan jenisnya akan menggerak-gerakkan sayap yang sedikit agak dikembangkan.paruh terbuka dan lidah digerak-gerakkan seperti anak cucakrawa yang minta disuapi induknya; Sambil mendekat menyuarakan suara yang lembut, sambil merendahkan badannya dan ekornya agak terangkat keatas; kepala sering merunduk atau merendah ke depan merendah sejajar dengan punggung.
Didengar dari suaranya
Dari suaranya, burung cucakrawa dapat dibedakan jenis kelaminnya, walaupun untuk itu perlu dibituhkan waktu.
Jantan: Lebih sering menyampaikan nada panggil tinggi, keras dan melengking; Banyak variasi nada dan irama yang sering diperdengarkan; Bila berkicau bersama atau berpasangan akan memimpin irama lagunya.
Betina: Suara terdengar besar dan dalam, seakan akan memberi jawaban kicauan burung jantan; Variasi suara lebih monoton dan seolah olah hanya mengikuti saja; Perbandingan ini akan nampak jelas lagi bila dua burung, jantan dan betina, sedang berkicau bersaut sautan saling didekatkan. Namun ada burung betina yang dapat bersuara doble atau ropel, sehingga dalam ini sulit untuk memilih atau menentukan antara jantan dan betina

 
TIPS MEMILIH CR
ung
Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pemilihan bahan atau bakalan pada burung cucakrowo.
  • Postur. Pilihlah yang berpostur besar memanjang dengan panjang leher, badan dan ekor serta kaki yang serasi. Jangan memilih bahan yang berleher, berbadan pendek dan berpostur tubuh kecil.
  • Bentuk paruh, sebaiknya pilih bentuk paruh yang berpangkal lebar, tebal, besar dan panjang. Paruh bagian bawah harus lurus. Jangan memilih bahan yang memiliki paruh bengkok. Posisi lubang hidung pilih sedekat mungkin dengan posisi mata.
  • Sayap mengepit rapat dan kaki mencengkram kuat, ini menandakan bahan tersebut sehat. Warna kaki tidak berpengaruh terhadap mental burung.
  • Lincah dan bernafsu makan besar. Ini ciri-ciri bahan yang bermental baik.
  • Rajin bunyi, ini menandakan burung tersebut memiliki prospek yang cerah.
  • Leher panjang padat berisi. Menandakan burung ini akan mengeluarkan power suara secara maksimal.
 
 Sekian ulasan mengenai burung cucak rowo semoga bermanfaat
salam Kicau Mania
 
 
 
 
 
 

Burung Anis Merah (Punglor Bata) Zoothera Citrina

Anis Merah (AM)

ilmukicau.blogspot.com




Anis merah atau punglor bata atau punglor cacing, yang sering juga disebut anis bata  (Zoothera citrina) merupakan burung yang sangat populer di antara para penghobi kicauan.
Dengan gaya telernya, anis merah mampu memberi pesona dan daya pikat.

Karena anis merah adalah burung monomorfik, maka perbedaan jantan dan betina tidak bisa dibedakan dengan melihat ciri-ciri fisik yang terlihat.
Banyak “mitos” yang menyebut ciri fisik tertentu adalah menandakan jenis kelamin anis merah. Namun sesungguhnya sangat sulit menentukan jenis kelamin anis merah dewasa hanya berdasar pengamatan.
Meski demikian ada patokan yang sering digunakan orang untuk memilihnya meski tidak akurat 100%. Misal, anis jantan memiliki warna merah yang lebih terang dan tajam ketimbang anis merah betina. demikian pula dengan warna hitamnya lebih legam.
Ada juga cara menentukan jenis kelamin anis merah dengan meraba kloaka untuk mengetahui kerapatan tulang supitnya. Jika rapat dan terasa runcing, jantan. Jika agak lebar dan lembek, betina.
Sementara perbedaan lain bisa dilihat dari perilakunya. Anis merah jantan akan terluhat mendongak-dongakkan kepala jika bertemu anis merah lain. Sedangkan anis merah betina tidak menunjukkan perilaku demikian. Kalau anis merah betina sedang birahi, maka jika bertemu anis merah jantan yang sedang bernyanyi atau teler, dia akan mengetar-getarkan sayap dan mendongak sembari bersiul ciiirrr…cirrr.

Memilih anis merah
Karena sulitnya memilih anis merah jantan dan betina bakalan, maka jika memilih anis merah bakalan sebaiknya menambah budget pembelian. Datanglah ke pedagang burung yang sudah terpercaya di pasar manapun atau kepada pengepul. Pedagang atau pengepul yang sudah mapan tidak akan mengambil risiko kehilangan pelanggan yang mau mengeluarkan uang lebih.
Sementara untuk patokan secara umum dalam memilih anis merah adalah sebagai berikut:
Berkelamin jantan, ciri-ciri burung Anis Merah berjenis kelamin jantan dapat dilihat dari postur yang panjang serasi, ekor lebih panjang, tulang belakang dan supit kecil rapat, warna bulu lebih tegas, paruh lebih gelap, warna bulu dibawah paruh bagian bawah lebih pudar, mata besar melotot, bentuk kepala lebih besar dan bergerak lincah.
 
  • Bentuk paruh, sebaiknya pilih bentuk yang berpangkal lebar, tebal, besar dan panjang. Paruh bagian bawah harus lurus. Jangan memilih bahan burung Anis Merah yang memiliki paruh bengkok. lubang hidung pilih sedekat mungkin dengan posisi mata.
  • Postur badan, pilihlah bahan Anis Merah yang berpostur sedang dengan panjang leher, badan dan ekor serta kaki serasi. Jangan memilih bahan yang berleher dan berbadan pendek.
  • Sayap rapat dan kaki mencengkram kuat, ini menandakan bahan tersebut sehat.
  • Warna kaki tidak berpengaruh terhadap mental burung.
  • Lincah dan nafsu makan besar. Ini ciri-ciri bahan yang bermental baik.
  • Berdiri pada posisi kepala mendangak 45 derajat. Boleh percaya boleh tidak, apabila anda mendapatkan bahan yang seperti ini, dijamin umur 7 bulan sudah ngerol dan mulai teler.
Cara perawatan
-Tempat: Anis merah bisa dipelihara dengan sangkar bulat maupun kotak ukuran 40 x 40 x 60 cm atau bisa juga bulat dengan diameter 30 cm. Sementara tenggeran atau pangkringan bisa dibuat dengan diameter 1,5 cm, dengan bahan cabang kayu asam yang keras, permukaan kulit yang agak kasar sehingga bisa untuk mengasah paruh agar tidak runcing. Untuk perawatan harian, anis merah tidak perlu dikerodng dan hanya dikeorodng malam hari agar tidak kedinginan.


Pola Perawatan Harian dan Stelan Harian untuk burung Anis Merah:
Jam 07.00 burung diangin2kan di teras. Jam 07.30 burung dimandikan (karamba mandi atau semprot, tergantung pada kebiasaan masing-masing burung).
  • Bersihkan kandang harian. Ganti atau tambah Voer, Air Minum dan buah.
  • Berikan Jangkrik 2 ekor pada cepuk EF. Jangan memberikan Jangkrik secara langsung pada burung.
  • Penjemuran dapat dilakukan selama 1-2 jam/hari mulai pukul 08.00-11.00. Selama penjemuran, sebaiknya burung tidak melihat burung sejenis.
  • Setelah dijemur, angin-anginkan kembali burung tersebut diteras selama 10 menit, lalu sangkar dikerodong.
  • Siang hari sampai sore (jam 10.00-15.00) burung di Master dengan suara Master atau burung-burung Master.
  • Jam 15.30 angin-anginkan kembali diteras, boleh dimandikan bila perlu.
  • Berikan Jangkrik 1 ekor pada cepuk EF.
  • Jam 18.00 burung kembali dikerodong dan di perdengarkan suara Master selama masa istirahat sampai pagi harinya.
Note:
  • Kroto segar diberikan 1 sendok teh maksimal 2x seminggu. Contoh setiap hari Senin pagi dan hari Kamis pagi.
  • Pemberian Cacing diberikan 2 ekor 1x seminggu. Contoh setiap hari Senin pagi.
  • Buah Segar berikan rutin setiap hari, dengan format: Hari Senin sampai hari Kamis berikan buah Pepaya, hari Jum’at dan hari Sabtu berikan Apel atau Pisang atau buah lainnya.
  • Berikan Multivitamin yang dicampur pada air minum seminggu sekali.
  • Lakukan mandi malam dengan bak seminggu sekali(jangan dipaksakan, biarkan burung mandi sendiri)



Penanganan burung anis merah over birahi
  • Pangkas porsi Jangkrik menjadi 1 pagi dan 1 sore.
  • Lakukan pengembunan (jam 05.30-06.00).
  • Berikan Cacing 1 ekor 2x seminggu.
  • Frekuensi mandi dibuat lebih sering, misalnya pagi-siang dan sore.
  • Lamanya penjemuran kurangi menjadi 30 menit/hari saja.
  • Burung sebaiknya diisolasi, jangan melihat dan mendengar suara burung Anis Merah lain dahulu untuk sementara waktu.
Penanganan burung anis merah ngedrop
  • Tingkatkan porsi pemberian Jangkrik menjadi 3 pagi dan 3 sore.
  • Tingkatkan porsi pemberian Kroto menjadi 3x seminggu.
  • Tingkatkan porsi pemberian Cacing menjadi 2 ekor 3x seminggu.
  • Mandi dibuat 2 hari sekali saja.
  • Burung segera diisolasi, jangan melihat dan mendengar burung Anis Merah lain dahulu.
  • Lamanya penjemuran ditambah menjadi 2-3 jam/hari.

sekian ulasan tentang burung anis merah, semoga bermanfaat
salam kicau mania